Monday, June 8, 2009




Semua orang tahu industri kepariwisataan di pulau Bali itu besar sekali. Ada banyak penerbangan langsung ke Bali yang murah sekali; pantai-pantai yang indah dan banyak hotel-hotel, restoran-restoran dan untuk orang muda, klab-malam yang baik.

Industri kepariwisataan di Jogjakarta tidak seterkenal itu, tetapi industri itu berhasil juga. Pada zaman Orde Baru (mulai tahun 1967 sampai tahun 1998) Presiden Suharto mendorong kepariwisataan di Indonesia, untuk pembangunan. Sesudah itu Jogja menjadi terkenal sebagai pusat budaya di Jawa: dengan Kranton, Taman Sari (dibangun pada Zaman Portugis), Museum Sono-Budoyo dan Kota Gede.
[1] Juga, di bagian timur laut, di antara kota Jogja dan kota Solo, ada candi-candi Prambanan yang terkenal.




Di samping orang asing yang kayu banyak orang ‘backpacker’ datang ke Jogja juga. Menurut prof Pak Hampton, jenis wisata ini lebih baik untuk pembangunan Jogja, karena orang ‘backpacker’ lebih suka tinggal di hotel dan/atau losmen yang kecil.[2] Hotel-hotel yang besar biasanya milik orang asing, tetapi kebanyakan hotel yang kecil dan losmen di miliki dan diurus oleh rakyat setempat. Oleh karena itu uang wisata tidak meninggalkan negeri. [3]


Baru-baru ini, tidak begitu banyak turis datang ke Indonesia. Pada tahun 2003 150 orang mati dari bom di depan hotel Marriott di Jakarta, dan ada dua letupan besar di kelab malam di Bali juga. Katanya grup yang kecil sekali marah karena masyarakat Indonesia berubah pada zaman modern; dan dulu menyerang tempat yang penuh dengan turis, seperti bandar udara, hotel dan kelab malam.
[4] Juga, dulu banyak orang asing takut sakit SARS, jadi tidak mau berpergian ke luar negeri[5]

Oleh karena itu, sekarang waktu yang bagus untuk berpergian ke Indonesia. Murah dan sepi.

Katanya jumlah turis sudah mulai banyak lagi, jadi datang sekarang dan nikmati pemandangan, bau dan rasa di Jogja. Kalau Anda ingin lebih banyak informasi, berkunjung ke kantor kami di Jl Pisang 41 atau menelepon kami – +62 4561 6454. Mudah-mudahan kami akan bertemu dengan Anda sebentar lagi.

[1] Justine Vaisutis et al (eds), Indonesia (2007) 171 – 176.
[2] Mark P Hampton, ‘Entry points for local tourism in developing countries: evidence from Jogjakarta, Indonesia’ (2003) 85(2) Geografisker Annaler Series B, Human Geography, 87.
[3] Ibid.
[4] Rita Smith Kipp, ‘ Indonesia in 2003: Terror's Aftermath’ (2004) 44(1) Asian Survey, 63.
[5] Ibid, 65.

No comments:

Post a Comment