Wednesday, June 10, 2009

Tawar-Menawar di Indonesia

Di Indonesia, harga dan ongkos untuk barang-barang dan servis dapat ditawar. Tentu saja, di pusat berbelanja dan mal besar, harga-harga biasanya harga mati. Tapi, di jalan dan di pasar, anda bisa tawar-menawar untuk harga yang lebih murah. Juga, di daerah turis – di mana barang suvenir dijual – tawar-menawar diharapkan, jadi, harga-harga dinaikkan supaya dapat ditawar ke bawah.


Proses tawar-menawar tidak sulit mengerti. Pertama-tama, anda harus memilih harga yang anda kira sesuai untuk benda yang ingin dibeli. Sebaiknya anda berkeliling dari toko ke toko dulu, dan mencari harga biasa untuk barang itu.

Kalau anda melihat sesuatu yang menarik dan mau dibeli, menanya harga saja. Kemudian, kalau penjual mengatakan harga untuk benda itu, memperlihatkan sedikit kejut dan heran, lalu minta dengan hormat, “Boleh tawar?”. Dia mungkin akan setuju, lalu anda bisa menawar. Janganlah menawarkan harga yang terlalu kecil, karena penjual akan merasa dihinakan.


Sesudah itu, kalau anda bisa setuju dengan penjual itu tentang harga, anda bisa membeli. Tapi, kalau anda tidak setuju, sebaiknya anda berangkat dari toko itu dan mencari di toko lain. Janganlah menjadi terlalu tertarik pada suatu benda, karena penjual akan melihat ini dan tidak akan mengurangi harganya.Ingatlah, kebanyakan barang bisa dibeli di mana saja. Sementara anda sedang berangkat dari toko itu, penjual itu mungkin akan menawari harga terakhir. Kemudian, anda dapat setuju dan membeli atau terus berangkat.


Hal yang paling penting di permainan tawar-menawar adalah menonton dan membaca ekspresi wajah penjual dan mendengarkan kelentongnya. Tanda-tanda ini akan memberitahu apa yang harus anda lakukan.


Sumber-Sumber

Quinn, G., The Indonesian Way, Buku 4, hal. 814-820

Wawancara telpon dengan bibi saya yang orang Melayu, 27/4/09.

Tuesday, June 9, 2009

Iklim dan makanan popular di Indonesia

Iklim di Indonesia bededa di mana dan kalau berkunjung anda. Iklimnya tropis sekali jadi cuaca panas dan lembab tahun. Di Indonesia ada musim kemarau dan musim hujan. Musim hujan sepanjang mulai dari Bulan Desember sampai Bulan Maret, dan musim keringdari Bulan Juni sampai Bulan September. Di musim hujan, hujan selalu dari kira-kira tengah hari sampai malam dan kadang-kadang mulai tiba-tiba dan selalu selama dua jam. Di musim kering mulai dari Bulan April sampai Bulan Oktober dan waktu yang sukar berkunjung ke Indonesia, karena kegiatan untuk wisatawan dan berjalan jalan naik mobil atau bis sukar selama musim hujan. Sayang, Negara selalu mengalami gempa bumi dan letusan gunung api.

Baju untuk Iklim di Indonesia

Jas hujan baju yang terbaik untuk dipakai, tetapi baju yang hangat dapat dibawa untuk malam yang lebih sejuk. Di daerah Muslim, penting baju anda menutup badan.

Makanan

Nasi makanan yang paling biasa, jadi sering tamu akan makan nasi goreng, mie goreng dan gado-gado. Ikan dan makanan laut lain sering dimakan, misalnya udang karang, tiram, udang dan kepiting. Ayam dan daging sapi dimakan sering sekali juga. Kelapa berguna untuk masakan kadang-kadang sebagai minyak dan susu. Banyak buah-buahan lain laku juga misalnya durian, papaya, nanas dan mangga.


References:

www.worldtravelguide.net

www.indonesiatravel.org.uk

Pakaiaan di Indonesia

Ada tiga macam gaya pakaian di Indonesia hari ini. Ada pakaian tradisional, pakaian Islam dan pakaian orang barat.

Di Indonesia ada tiga ratus suku bangsa dan setiap suku bangsa ada pakaian tradisional sendiri. Pakaian tradisional dipakai untuk kesempatan khusus. Pakaian tradisional wanita ada biasanya kain dan kebaya. Biasanya kain terbuat dari batik. Batik itu kain yang dibuat dengan menembok.

Kebaya baju dibuat dari kapas dan renda. Kadang-kadang wanita memakai kain bernama selendang. Selendang digunakan di bahu. Pakaian tradisional laki-laki biasanya sarung atau teluk beskap dan peci. Teluk beskap itu kain dengan jas. Jas seperti jas tradisional dari Jawa. Peci itu topi tradisional dan biasanya hitam dan dibuat dari kain wol.



Agama Islam berpengaruh besar pada pakaian di Indonesia. Kerudung dipakai oleh wanita Islam dan semua badan harus ditutup. Wanita mungkin memakai kemeja panjang, pantalon atau rok panjang. Laki-laki harus juga menutup semua badan mereka. Mereka memakai pantalon dan baju gombrong.

Banyak orang Indonesia memakai pakaian orang barat. Celena jins, baju-baju dan celana seperti pakaian orang barat. Orang Indonesia di kota besar pergi ke kantor memakai setelan dengan dasi. Untuk kesempatan informal celana jins mungkin dipakai.



References
Textbook
http://www.bookrags.com/research/clothing-traditionalindonesia-ema-02/
http://www.aceh.net/dressesandcustomes.html

Monday, June 8, 2009




Semua orang tahu industri kepariwisataan di pulau Bali itu besar sekali. Ada banyak penerbangan langsung ke Bali yang murah sekali; pantai-pantai yang indah dan banyak hotel-hotel, restoran-restoran dan untuk orang muda, klab-malam yang baik.

Industri kepariwisataan di Jogjakarta tidak seterkenal itu, tetapi industri itu berhasil juga. Pada zaman Orde Baru (mulai tahun 1967 sampai tahun 1998) Presiden Suharto mendorong kepariwisataan di Indonesia, untuk pembangunan. Sesudah itu Jogja menjadi terkenal sebagai pusat budaya di Jawa: dengan Kranton, Taman Sari (dibangun pada Zaman Portugis), Museum Sono-Budoyo dan Kota Gede.
[1] Juga, di bagian timur laut, di antara kota Jogja dan kota Solo, ada candi-candi Prambanan yang terkenal.




Di samping orang asing yang kayu banyak orang ‘backpacker’ datang ke Jogja juga. Menurut prof Pak Hampton, jenis wisata ini lebih baik untuk pembangunan Jogja, karena orang ‘backpacker’ lebih suka tinggal di hotel dan/atau losmen yang kecil.[2] Hotel-hotel yang besar biasanya milik orang asing, tetapi kebanyakan hotel yang kecil dan losmen di miliki dan diurus oleh rakyat setempat. Oleh karena itu uang wisata tidak meninggalkan negeri. [3]


Baru-baru ini, tidak begitu banyak turis datang ke Indonesia. Pada tahun 2003 150 orang mati dari bom di depan hotel Marriott di Jakarta, dan ada dua letupan besar di kelab malam di Bali juga. Katanya grup yang kecil sekali marah karena masyarakat Indonesia berubah pada zaman modern; dan dulu menyerang tempat yang penuh dengan turis, seperti bandar udara, hotel dan kelab malam.
[4] Juga, dulu banyak orang asing takut sakit SARS, jadi tidak mau berpergian ke luar negeri[5]

Oleh karena itu, sekarang waktu yang bagus untuk berpergian ke Indonesia. Murah dan sepi.

Katanya jumlah turis sudah mulai banyak lagi, jadi datang sekarang dan nikmati pemandangan, bau dan rasa di Jogja. Kalau Anda ingin lebih banyak informasi, berkunjung ke kantor kami di Jl Pisang 41 atau menelepon kami – +62 4561 6454. Mudah-mudahan kami akan bertemu dengan Anda sebentar lagi.

[1] Justine Vaisutis et al (eds), Indonesia (2007) 171 – 176.
[2] Mark P Hampton, ‘Entry points for local tourism in developing countries: evidence from Jogjakarta, Indonesia’ (2003) 85(2) Geografisker Annaler Series B, Human Geography, 87.
[3] Ibid.
[4] Rita Smith Kipp, ‘ Indonesia in 2003: Terror's Aftermath’ (2004) 44(1) Asian Survey, 63.
[5] Ibid, 65.